Perspektif Gender dalam Takhayul


Takhayul merupakan bagian dari folklor. Artinya, takhayul merupakan bagian dari tradisi suatu kelompok masyarakat. Dengan demikian, keberadaan sebuah takhayul tidak serta-merta ada, melainkan lahir dari olah pikir, rasa, laku, dan karya seseorang atau sekelompok orang yang mendiami tempat tertentu.

Selain itu, takhayul juga merupakan produk yang dapat membentuk atau merubah tatanan sosial masyarakat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya fungsi folklor sebagai alat pengesahan pranata-pranata atau lembaga-lembaga sosial kebudayaan masyarakat, sebagai alat pendidikan, dan sebagai pengontrol atau pengawas norma-norma masyarakat.

Berdasarkan ketiga fungsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain sebagai produk–takhayul juga merupakan alat atau sarana untuk mengontruksi, merepresentasi, melegitimasi, bahkan mendeskriminasi kelas sosial tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam takhayul tidak hanya terdapat bualan, angan-angan, dan imajinasi belaka tetapi juga terdapat berbagai macam ideologi, termasuk ideologi tentang gender.

Oleh karena itu, tidak heran jika banyak ditemukan pembahasan mengenai gender seseorang atau sekelompok orang di dalam sebuah takhayul. Contoh, perhatikan takhayul Sasak dari Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Lombok Tengah tentang perempuan, pernikahan dan rumah tangga berikut ini:

“Dengan nine lamun ndek tao piak topat, ndek paut ye merarik!”

 Artinya, jika seorang perempuan tidak bisa membuat ketupat, maka tidak pantas baginya untuk menikah!

Pada takhayul tersebut diungkapkan bahwa ukuran siap atau tidaknya seorang perempuan Sasak Desa Pengenjek menikah dilihat dari kemampuannya membuat ketupat. Artinya, ukuran pantas atau tidaknya seorang perempuan Sasak desa tersebut menikah dilihat dari kecakapannya mengerjakan pekerjaan domestik dan bukan dilihat dari kematangan biologis, usia, mental dan spiritual. Hal tersebut menunjukkan bahwa keperempuanan perempuan Sasak Desa Pengenjek dikontruksi berdasarkan gender dan bukan lagi secara lahiriah.

Selain itu, takhayul tersebut juga mengungkapkan bahwa perempuan Sasak Desa Pengenjek merupakan objek birahi laki-laki. Kata "ketupat" pada takhayul di atas dapat berafiliasi dengan kelamin perempuan, jika merujuk pada bentuknya ketika terbelah. Alasan lain yang menguatkan penjelasan itu adalah ungkapan lelaki Sasak, yang berbunyi:

“Eleh, padahal topatm wah berek!”

Artinya, alah, padahal ketupatmu sudah (berair, rusak, dan basi)

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa lelaki Sasak sering menggunakan kata "ketupat" sebagai  simbol  kelamin  perempuan.  Oleh karena itu, kalimat pada takhayul di atas dapat diartikan bahwa perempuan Sasak Desa Pengenjek pantas menikah apabila mampu dan siap memenuhi kebutuhan biologis laki-laki. Hal tersebut membuktikan bahwa perempuan Desa Pengenjek dipandang sebagai second sex (kelamin kelas dua).

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa takhayul tidak hanya merupakan produk masyarakat tetapi juga alat atau sarana. Dengan demikian, di dalam takhayul tidak hanya terdapat bualan, angan- angan, dan imajinasi belaka tetapi juga terdapat berbagai macam ideologi, termasuk ideologi mengenai gender. Oleh sebab itu, takhayul dan gender merupakan dua hal yang dapat saling berkaitan.

Baca juga : Perempuan dalam Takhayul Sasak

Download tulisan lengkanya disini !!!


Sumber : Skripsi Dedy Hari Suyanto "Posisi Perempuan dalam Tahkyul Sasak Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Lombok Tengah Kajian Mitologi serta Kaitannya dengan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA”

Comments