Kearifan "Nyaweq dan Beras Pati" Masyarakat Suku Sasak

Sumber foto: edukasinfo.com

Indonesia merupakan negara multikultural yang kaya dengan corak budaya dan kearifannya. Setiap daerah memiliki kebudayaan tersendiri yang unik dan menjadi kekayaan nasional. Keberagaman budaya yang dimiliki masyarakat menjadi kearifan lokal yang terinternalisasikan dalam sikap dan perilaku anggota masyarakat dalam menjalin hubungan sosial dengan sesama.

Kearifan lokal menjadi pedoman hidup masyarakat yang tidak terpisahkan dari kebudayaan yang dimiliki. Pada masyarakat suku Sasak di pulau Lombok, kearifan yang dimiliki cukup beragam. Tepatnya di Desa Pengenjek Kecamatan Jonggata Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat sebuah kerifan yang sangat unik.


Masyarakat di desa Pengenjek memegang teguh kearifan peninggalan para leluhur, seperti Tradisi Mertus, Sandak Cobek, Andang-Andang, dan Baras Pati. Selain itu masih banyak lagi kearifan masyarakat yang tetap dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca juga: Kearifan "Dilah Jojor" Masyarakat Suku Sasak

“BERAS PATI dan NYAWEQ”

Kearifan Beras Pati merupakan tradisi atau aktivitas masyarakat yang dilakukan dalam kegiatan yang disebut dengan “Nyaweq” atau memberikan tanda pada lahan/lokasi pembangunan rumah maupun bangunan lainnya sebelum proses pengerjaan dimulai.

Biasanya tradisi Nyaweq dilaksanakan pada malam hari. Tradisi ini diyakini oleh masyarakat Pengenjek untuk mengusir makhluk-makhluk gaib seperti Jin dan sejenisnya agar pindah dari lahan kosong tempat pambangunan ke tempat lain.



Bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat “Saweq” atau “Nyaweq”, yaitu bambu, daun Enau, dan Air. Daun Enau dan Bambu atau dalam bahasa Sasak disebut “Tereng” merupakan symbol yang memiliki makna umum, yaitu agar para pekerja dapat menyelesaikan pembangunan dengan lancar tanpa hambatan. Kemudian setelah itu dikumandangkan adzan di lokasi pembangunan.

Simbol Air dalam kegiatan Nyaweq bermakna terwujudnya suasana yang sejuk, tenang, dan damai bagi calon penghuni bangunan tersebut. Dalam prosesnya, Air disiram mengitari lokasi pembangunan rumah maupun bangunan lainnya.

Dalam proses pembangunan tersebut, ritual penting yang harus disiapkan adalah Beras Pati. Beras Pati ini merupakan penyempurnaan dari ritual Nyaweq yang diyakini masyarakat untuk memperlancar dan mengurangi kesalahan dalam aktivitas pembangunan.


Bahan atau kelengkapan yang diperlukan dalam menyiapkan beras pati adalah beras kuning, uang, buah pinang, bunga tujuh rupa, kapur, rokok, dan benang.
  1. Beras kuning diyakini sebagai sajian makanan untuk makhluk-makhluk halus seperti Jin dan sejenisnya;
  2. Buah Pinang merupakan perwujudan hati yang bermakna cinta terhadap pelaksanaan budaya;
  3. Bunga bermakna ringan yang artinya agar orang yang terlibat dalam proses pembangunan tidak merasa terbebani dengan apa yang dikerjakan;
  4. Kapur berwarna putih, memiliki makna parasaan yang suci dah bersih sehingga pelaksanaan ritual ditujukan agar buah pinang sebagai simbol hati menjadi suci.
  5. Rokok memiliki makna hubungan yang rukun dan damai;
  6. Benang mamiliki makna pengikat hubungan yang utuh.
Penggunaan tradisi Beras Pati tidak hanya dilakukan pada proses pembangunan rumah atau Nyaweq melainkan juga dapat digunakan pada saat akan membuat panggung, acara kematian, maupaun aktivitas dan ritual kebudayaan lainnya.

Penulis: Rifki Mardani, Kelas XII IPS 1 SMAN 1 Pringgarata





Comments