Evaluasi Kurikulum melalui Pendekatan Model EPIC

A. Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini semakin pesat, akibatnya setiap individu harus mampu untuk menghadapi tantangan dan ketidakpastian zaman yang semakin kompleks. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan satu-satunya cara agar bangsa Indonesia dapat bersaing dan siap menghadapi permasalahan-permasalahan hidup yang semakin kompleks. Peningkatan kualitas tiap individu bangsa kita dapat dijamin apabila sekolah sebagai tempat berlatih, belajar, dan mengembangkan diri baik dalam intelektual moral, sosial, dan spiritual benar-benar menjamin semua peserta didik mampu menghadapi masa depannya.

Kurikulum merupakan salah satu hal yang paling pokok yang harus dibenahi untuk menanggulangi masalah-masalah dalam pendidikan. Seiring dengan perubahan zaman dan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, kurikulum yang berlaku di Indonesia sudah beberapa kali mengalami perubahan dan penyempurnaan. Di antaranya Kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 (kurikulum berbasis kompetensi), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 2013, dan yang terakhir adalah Kurikulum Merdeka.

Pengembangan kurikulum yang telah dilakukan, diharapkan dapat sepenuhnya membantu guru untuk membantu peserta didik agar lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dalam menghadapi tantangan hidup. Penggunaan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta didik dalam kehidupannya diharapkan juga membangkitkan motivasi peserta didik untuk belajar. Pengembangan setiap kurikulum tentu harus dapat diukur dan dievaluasi. Salah satu instrumen pendekatan evaluasi yang dapat diterapkan yakni Evaluasi Kurikulum Model Epic (Evaluasi Program Inovative Curriculum). Berdasarkan latar belakang masalah yang ada maka rumusan masalahnya adalah bagaimana penerapan evaluasi kurikulum menggunakan model EPIC (Evaluasi Program Inovative Curriculum) di sekola?

B. Pembahasan

Terdapat beberapa model untuk evaluasi kurikulum, yakni mulai dari yang sederhana sampai yang paling kompleks. Yatim (2006: 63) memaparkan beberapa jenis evaluasi kurikulum, antara lain (1) Model Educational System Evaluation yang terdiri dari model CIPP, model EPIC, model CEMREL, model Atkinson, dan model stake; (2) model evaluasi yang lain yakni, model measurement, model Congruence dan model Illuminatif.

Pada model EPIC atau evaluation program innovative curriculum menggambarkan keseluruhan program evaluasi dalam sebuah kubus. Menurut Nana (2005: 189) jika dipandang bentuk evaluasi model ini dalam sebuah kubus, maka yang akan tampak adalah tiga bidang kubus. Bidang pertama adalah behavior atau perilaku yang menjadi sasaran pendidikan yang meliputi perilaku cognitive, affective, dan psychomotor. Bidang kedua adalah instruction atau pengajaran, yang meliputi organization, content, method, facilities and cost, dan bidang ketiga adalah kelembagaan yang meliputi student, teacher, administrator, educational specialist, family and community.

Kurikulum merupakan jiwa dalam dunia pendidikan, dinama kedudukan kurikulum selalu hadiir. Dalam hal ini kurikulum juga memerlukan evaluasi untuk memantangkannya. Evaluasi kurikulum memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Tanpa adanya evaluasi, kita tidak akan mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kurikulum yang sudah dipergunakan dalam proses pembelajaran.

Evaluasi kurikulum adalah proses sistematis yang dilakukan untuk mengukur efektivitas, relevansi, dan efisiensi dari kurikulum pendidikan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Evaluasi kurikulum bertujuan untuk memastikan bahwa kurikulum dapat memberikan pendidikan yang bermutu, sesuai dengan perkembangan peserta didik, serta memenuhi kebutuhan masyarakat. Berikut adalah elemen-elemen penting dalam evaluasi kurikulum: 1) Tujuan Evaluasi Kurikulum: Evaluasi kurikulum memiliki berbagai tujuan; 2) Tahap Evaluasi Kurikulum; 3) Sumber Data; 4) Indikator Evaluasi; 5) Metode Evaluasi; 6) Analisis Data; 7) Umpan Balik dan Perbaikan; 8) Pemantauan Berkelanjutan; 9) Peran Guru dalam Evaluasi Kurikulum; 10) Keterlibatan Pihak Berkepentingan; 11) Konteks Lokal; dan 12) Evaluasi Diri dan Evaluasi Eksternal.

Evaluasi kurikulum dapat dilakukan secara internal oleh lembaga pendidikan itu sendiri atau oleh pihak eksternal seperti lembaga akreditasi. Evaluasi kurikulum adalah komponen penting dalam pengembangan dan perbaikan pendidikan. Dengan menggunakan data dan umpan balik yang diperoleh dari evaluasi kurikulum, lembaga pendidikan dapat memastikan bahwa kurikulum mereka tetap relevan, efektif, dan bermutu, serta dapat meningkatkan pengalaman belajar peserta didik. Sehingga dalam hal ini dapat menjadi acuan untuk perbaikan dan pengembangan kurikulum ke depannya agar peserta didik mampu mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara seefektif mungkin.

C. Kesimpulan

Evaluasi kurikulum sebagai usaha sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. Secara sederhana, dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penetuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan ada revisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.

Evaluasi kurikulum melalui pendekatan model EPIC atau evaluation program innovative curriculum digambarkan dalam bentuk sebuah kubus, maka yang akan tampak adalah tiga bidang kubus. Bidang pertama adalah behavior atau perilaku yang menjadi sasaran pendidikan yang meliputi perilaku cognitive, affective, dan psychomotor. Bidang kedua adalah instruction atau pengajaran, yang meliputi organization, content, method, facilities and cost, dan bidang ketiga adalah kelembagaan yang meliputi student, teacher, administrator, educational specialist, family and community.

Comments