Kearifan "Besentulak" Pada Masyarakat Suku Sasak

Foto: Prosesi Kegiatan Besentulak

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan kearifannya. Setiap daerah memiliki tradisi dan kebudayaan yang unik dan berbeda-beda. Kearifan lokal menjadi pedoman hidup masyarakat yang tidak terpisahkan dari kebudayaan yang dimiliki.

Pada masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, kearifan yang dimiliki cukup beragam. Tepatnya di Dusun Pidendang Desa Sepakek Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat terdapat kearifan yang cukup unik dan masih terjaga eksistensinya. Masyarakat Dusun Pidendang memegang teguh kearifan peninggalan para leluhur seperti tradisi ngebangar, mertuk, andang-andang, beras pati, besentulak dan masih banyak lagi kearifan yang di jadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Makna dan Tata Cara Pelaksanaan Tradisi "Besentulak"

Kearifan Besentulak merupakan sebuah tradisi yang biasanya dilakukan apabila di desa tersebut banyak orang yang terserang wabah penyakit. Besentulak dipercayai oleh masyarakat Pidendang karena diyakini dapat menghilangkan atau menjadi syarat untuk memohon kesembuhan kepada Yang Maha Kuasa. Kegiatan besentulak biasanya dipimpin oleh para petinggi (tokoh adat/masyarakat) yang dilakukan selama 4 hari berturut-turut menjelang waktu magrib (sendikale). Lokasi berlangsungnya kegiatan dilakukan di pinggir-pinggir jalan tertentu di kawasan Dusun Pidendang.

Pelaksanaan tradisi Besentulak dimulai dengan menyiapkan makanan dan/atau "andang-andang" berupa bubur putih dan bubur merah yang diisi kedalam rondon (daun pisang yang sudah dibentuk). Kemudian makanan tersebut dibawa menggunakan nare (nampan kecil) yang ditutup dengan tembolak. Warga yang mengikuti tradisi ini secara bersama-sama pergi menuju lokasi tempat berlangsungnya kegiatan yang sudah ditentukan dengan membawa makanan yang sudah disiapkan.

Para warga selanjutnya duduk di sekitar jalan untuk memulai berdo’a. Besentulak hari pertama harus dimulai dari kawasan paling timur dusun tersebut, kemudian pemimpin tradisi akan menyalakan dupa dan memasang "saweq" (daun kelapa muda yang bagian bawahnya diikat oleh bunga, dan lain-lain). Setelah itu pemuka adat mengumandangkan adzan dan berdo'a. Kemudian masyarakat meminta air yang berisi rampe yang sudah di do'akan, lalu membasuhnya ke wajah. Makan berupa bubur dan sebagainya harus dimakan di tempat dan apabila makanan tersebut tidak habis, maka akan dibiarkan saja ditempat dan tidak boleh dibawa pulang.

Pada hari kedua sampai hari keempat, proses adat yang dilakukan sama dengan hari pertama. Namun yang membedakan adalah "andang-andang” atau makanan yang dibawa serta lokasi proses besentulak berbeda-beda. Pada Hari kedua, makanan yang dibawa adalah ketupat, urap, dan telur opor. Hari kedua, prosesi dimulai di pinggir jalan paling barat di wilayah desa. Sementara pada hari ketiga, lokasi berlangsungnya kegiatan sama dengan hari pertama, namun makanan atau "andang-andang" yang disiapkan adalah serabi dan apem yang di atasnya ditaburi kelapa parut. Sedangkang hari keempat (hari terakhir), dilaksanakan di pinggir jalan bagian tengah wilayah desa dengan membawa makanan berupa nasi, ayam panggang, dan sayur bening (kelor).

Menurut salah satu masyarakat Dusun Pidendang yang memimpin kegiatan Besentulak, Amak Munir mengatakan bahwa Besentulak adalah salah satu cara memohon kepada yang kuasa agar diberi kesembuhan dan keselamatan. Kegiatan besentulak ini dilakukan hanya ketika musim orang sakit (biasanya 1 tahun sekali). Besentulak sudah menjadi tradisi yang ada sejak nenek moyang dahulu. Untuk itu masyarakat Pidendang masih memegang teguh budaya dan menghargai tradisi peninggalan orang tua terdahulu.

Meski demikian, tidak sedikit masyarakat sudah beranggapan bahwa hal tersebut hanya mitos. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman yang semakin modern dan masyarakat yang terkena penyakit lebih memilih berobat ke rumah sakit dan sebagainya. Setiap orang memiliki keyakinan dan pemikiran yang berbeda-beda mengenai suatu tradisi, namun tentunya kesembuhan dan kesehatan tak lepas dari kuasa dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis: Devi Maulidiya

Comments

Post a Comment

Cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…