Resume Filsafat Ilmu dalam Pendekatan Verstehen

Doc. Pribadi: Muhamad Ali Muis, S.Pd.,Gr.


Penulis: Muhamad Ali Muis
Mahasiswa Pasca Sarjana, Prodi Pendidikan Dasar

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang mempelajari sifat, tujuan, dan metode ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu juga merupakan disiplin intelektual yang mendalami pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa itu pengetahuan, bagaimana pengetahuan diperoleh, dan apa arti pengetahuan bagi manusia. Filsafat ilmu memiliki akar sejarah yang panjang, dengan kontribusi dari para filosof klasik seperti Plato dan Aristoteles. Era Pencerahan Eropa menghasilkan perkembangan besar dalam filsafat ilmu, dengan tokoh seperti Immanuel Kant yang mengembangkan gagasan tentang epistemologi. Isu-Isu Utama dalam Filsafat Ilmu, seperti Metode Ilmiah, Kepastian Pengetahuan, Ontologi Ilmiah, dan Hubungan antara Ilmu dan Agama. Filsafat ilmu adalah disiplin yang mendalam tentang sifat dan metode ilmu pengetahuan. Ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang sumber pengetahuan, metodologi ilmiah, dan peran ilmu pengetahuan dalam masyarakat. Memahami filsafat ilmu membantu kita menggali lebih dalam esensi pengetahuan dan berpikir kritis tentang cara ilmu pengetahuan membentuk dunia kita.

Aspek "verstehen" adalah istilah yang berasal dari bahasa Jerman dan memiliki makna penting dalam konteks filsafat ilmu, terutama dalam pemikiran sosial dan humaniora. Dalam konteks ini, "verstehen" mengacu pada pemahaman atau interpretasi mendalam tentang perilaku manusia, tindakan, dan fenomena sosial. Pemahaman "verstehen" dalam filsafat ilmu sering dikaitkan dengan pemikiran Max Weber, seorang sosiolog dan filsuf Jerman yang memainkan peran penting dalam pengembangan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Weber mengemukakan bahwa dalam memahami fenomena sosial, kita perlu lebih dari sekadar mengamati fakta-fakta eksternal. Kita juga harus berusaha untuk memahami makna subjektif di balik tindakan dan perilaku manusia. Dengan demikian, "verstehen" dalam filsafat ilmu berfokus pada pemahaman yang mendalam tentang bagaimana individu atau kelompok manusia memahami dan memberi makna pada dunia mereka sendiri. Ini melibatkan empat elemen utama, yakni Pemahaman Subjektif, Tindakan Sosial, Empati, Deskripsi Komprehensif. Pendekatan "verstehen" ini bertujuan untuk mengatasi keterbatasan pendekatan positivis dalam ilmu sosial, yang cenderung hanya fokus pada data empiris dan generalisasi. Dengan memahami makna subjektif di balik tindakan sosial, para peneliti dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku manusia dalam konteks sosial dan budaya.

Adapun cabang filsafat terdiri dari filsafat spekulasi dan filsafat relatif. Filsafat spekulasi adalah cabang filsafat yang lebih berfokus pada pemikiran abstrak, teori-teori, dan pertanyaan filosofis yang sering kali tidak dapat diuji secara empiris. Ini melibatkan refleksi mendalam tentang konsep-konsep filosofis, gagasan ontologis, epistemologis, dan etika, tanpa keterlibatan langsung dalam metode ilmiah atau observasi empiris. Beberapa ciri filsafat spekulasi adalah; Pemikiran Teoritis, Abstraksi dan Konseptualisasi, Kontroversialitas, Peran dalam Filosofi.

Sementara filsafat relatif merupakan pendekatan dalam filsafat yang menekankan bahwa banyak konsep dan nilai-nilai adalah relatif, yaitu tergantung pada konteks budaya, sosial, atau individu tertentu. Filsafat relatif menggolongkan nilai-nilai sebagai produk dari kerangka referensi yang bervariasi dari satu budaya atau individu ke budaya atau individu lainnya. Beberapa ciri filsafat relatif adalah; Konteks Budaya, Kritik terhadap Universalisme, Pluralisme Nilai, Pentingnya Konteks. Filsafat relatif sering kali digunakan dalam diskusi tentang etika, pluralisme budaya, dan pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan dalam konteks global. Ini membuka jalan bagi refleksi yang lebih mendalam tentang keberagaman budaya dan pemikiran manusia. Kedua cabang filsafat ini menjadi bagian dari dinamika filsafat. Dinamika dalam filsafat mengacu pada perubahan, perkembangan, dan evolusi pemikiran filosofis sepanjang waktu. Filsafat, sebagai disiplin intelektual, tidak statis, tetapi terus berkembang sebagai respons terhadap perubahan sosial, ilmiah, budaya, dan politik dalam masyarakat manusia.

Disamping itu, Ferdinand de Saussure, seorang ahli bahasa asal Swiss yang terkenal dengan kontribusinya dalam bidang linguistik strukturalisme melalui pemikirannya memiliki implikasi filosofis yang signifikan, terutama dalam pemahaman tentang bahasa dan tanda. Bahasa sebagai Sistem (Language as a System): Saussure melihat bahasa sebagai sistem yang terdiri dari tanda-tanda yang berhubungan satu sama lain dalam suatu struktur. Ini mendukung ide bahwa bahasa memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman dan persepsi manusia terhadap dunia.

Dalam filsafat dikenal salah satu cabang filsat yakni epistemologi. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan, yaitu bagaimana kita tahu apa yang kita tahu dan apa yang merupakan sumber, sifat, batasan, serta validitas pengetahuan. Terdapat beberapa jenis epistemologi yang berbeda dalam filsafat, yang masing-masing mengkaji aspek-aspek berbeda dari pengetahuan dan cara kita memperolehnya. Beberapa jenis epistemologi yang umum, diantaranya; Empirisisme, Rasionalisme, Konstruktivisme, Pragmatisme, Naturalisme Epistemik, Skeptisisme.

Dalam filsafat ilmu dikenal adanya konsensus. Konsesnus mengacu pada kesepakatan atau persetujuan yang mencapai kesepahaman bersama atau kesepakatan umum dalam suatu isu, argumen, atau teori tertentu. Ini adalah proses di mana individu atau kelompok berusaha untuk mencapai pemahaman yang bersamaan atau kesepakatan dalam konteks pemikiran filosofis. Konsensus dalam filsafat dapat mengacu pada beberapa aspek Konsensus Filosofis, Konsensus Etika, Konsensus Ilmiah, Konsensus Politik, Konsensus Epistemik. Pentingnya konsensus dalam filsafat adalah bahwa itu mencerminkan pencarian kesepahaman dalam pemikiran filosofis atau konteks lainnya. Meskipun konsensus dapat menjadi tujuan dalam berbagai konteks, terdapat juga situasi di mana filsuf atau peneliti tidak mencapai konsensus, dan perbedaan pendapat atau debat filosofis tetap ada. Perbedaan pendapat ini juga merupakan bagian integral dari proses pemikiran filosofis yang terus berkembang.

Sumber: Rangkuman dari berbagai sumber

Comments